Huff.

The aftermath of every wrong doing is always miserable.

At least that’s what I’m facing in the last few days.

After that accident again, I become a real jerk. Again. After I thought I’m completely out of it, I’m back. Good Boy Gone Bad. Or is it Bad Boy Gone Worse?

I really should have thought about it over and over before I really decide whether to do it or not. I really should have known the consequences of doing it. But why, have never I recovered? Why should I always fall at the same hole? I’m no better than a donkey, then.

Everything is at stake now. Where should I go? What should I do?

I gotta move on, I know. And I really have to move on without ever looking back. I really have no idea whether this is good enough to be continued or not. One thing for sure, I really hope that everything will go back to normal as soon as possible.

KT–desperately craving for help

Imbisil?

Oke semuanyah. Haha. Hari ini gue baru saja mengalami pengalaman yang super dahsyat men.

Jadi ginih. Hari ini gue ada tes gitu. Materinya adalah MATERI UNTUK SATU SETENGAH TAHUN dan hanya dijelaskan dalam waktu sekian jam. Dan dijelasinnya tuh KEMARIN. Jadilah gue berpikir, “Gila, keren bener nih, baru begini langsung tes?” Tapi shitnya gue, gue mikir dengan tenangnya, “Ah, bisalah..” Jadilah gue malam itu mencoba untuk belajar. Belajar sih. Belajar. Haha. Terus tadi gitu kan tesnya. Jam sembilan. Pas gue kerjain sih pede jaya (ini kebiasaan sampah banget bro) tapi begitu gue cocokin sama temen gue yang dewa abis, ternyata gue banyak banget yang salah. Dan salahnya itu karena KEBALIK.

Oke. Terus maksud lu nulis ini apa Te? Curhat geje? Biar dunia tahu penderitaan lo dan memberi simpati pada hidup lo yang gak penting? Hoho sabar penonton. Maksud gue nulis kayak gini, selain emang gue ada purpose curhat, itu juga karena gue pingin sharing beberapa pelajaran yang gue dapet hari ini:

1. Kalau belajar apa-apa jangan tanggung-tanggung. Belajar tuh harus fokus. Lu mau jadi apa, belajarlah itu dengan SEPENUH HATI. Terus juga yah, kalau belajar itu cari suasana yang kondusif, dan pastikan kondisi lu fit dan prima. Jangan kayak gue, belajar kayak sambil ngantuk-ngantuk gitu. Hasilnya? Udah gue tulis di atas.

2. Batas antara orang imbisil (ini sebenarnya terlalu ekstrim sih) dengan orang yang bisa tapi belum belajar itu TIPIS MEN.

3. Masukan dari temen gue: EVERYBODY HAS THEIR OWN LIMITATIONS. Sebrilian apapun lo (wah, brilian!), sejenius apapun lo, serajin apapun lo, mau lo ga mandi ga makan ga napas (lebai), ada kalanya lu akan stuck di satu titik dimana seakan-akan l0 gagal. WOW, gw setuju. It happens in life. Dan inilah saat yang paling tepat buat gue buat kembali kepada Dia. (Jangan seperti gue juga yang cuma kembali pada saat kepepet! Haha)

Okay, thanks to Mr. Sultan Sulaiman Said for the great lesson, I really appreciate it. And now I guess it’s enough making fun of myself; the main thing is to learn from my mistakes and move on. Mudah-mudahan pelajaran hidup gue berguna buat yang lain yah! Intinya JANGAN KAYAK GUE! Haha..

Three Days for Eternity

Haha I guess I’ve violated the rule for copyright by plagiarizing an Indonesian movie title.

Anyway here I am after three days absent from school due to the training camp (frankly, it’s so similar to a camp). It’s just three days and I’ve missed school already. It’s just three days and I’ve faced so many challenges. It’s just three days and I’ve learned so much. And the latter is the one I’m going to write about.

It’s just so amazing what I’ve experienced in the last three days: challenging, intimidating, yet worth learning. In just three days I’ve got something that I can learn and I’ve got to keep for the rest of my life. Those are:

1. Everybody has got their own talent. Yes, God has equipped EACH of us with talent(s). The usage of parentheses here emphasize that everyone is different: God equipped each of us with different number of talents, depending on our ELIGIBILITY. So we have no right to be not satisfied with ourself; God knows us MORE THAN ANYONE.

2. Be strong in Him. On the first day of the training, they held some sort of diagnostic test. And I guess I failed it. But praise the Lord, when usually I faced every failure with disappointment and disregard, that day I managed to overcome the negative feelings. And I realize it’s nothing but His work in my life.

3. Focus. This is HIGHLY important for anyone to excel in their field of interest. I’ve seen so many people with talents and focus could reach the zenith and excel in their field of interest. If they can, so can us! I’m trying to focus on what I’m facing too!

Well I guess that’s for today. I’m really looking forward for the new things I can learn! I really hope that everything He let me experience day by day can make me become a better person. Thanks for reading, GBU all..

Update..

Hmm, it’s been a long time since I last wrote my post in English, lol. Well these days I’ve been so in love with Indonesian culture (I was so excited about wearing batik during Batik Day, and I really love singing Janger ever since) but that doesn’t mean I stop writing in English, right? I’m sorta need to get used to it, anyway.

So happy today because of His guidance in my life, that brought Smukiez Choir to victory on today’s choir competition, and I had a great day with the members of SC. And I’m also thankful for the time that I have today to be on my own, so that I can do what I like (such as Facebook-ing, posting a new post on my blog, watching videos on YouTube, etc.). But it’s not the main thing that I’d like to share today. Our discussion topic today is…

Well yeah, it’s been a month or so, I guess, since I wrote the post titled three dots. Yet, I have no idea why things stayed the same–every single thing that I feel around her feels so strong whenever I see any pictures of her. I have no idea why the feeling remained–that’s logical anyway, coz she didn’t do anything offensive, haha. But it’s just so unfathomable why everything stayed the same.. Miraculous.

By the way I’m having Maths test tomorrow, and due to my absence at school today I gotta pace myself to school again. That’s all for today, I guess, thanks for reading..

P.S. so happy to get my English brain back, haha

Konsolidasi Smukiez Choir II – Day 3

Gantung ya hari kedua? Yup, karena memang aktivitas di hari kedua agak ‘berlanjut’ ke hari ketiga..

Menjelang tengah malam, tiba-tiba anak-anak kelas tiga, anak kelas dua dan beberapa anak kelas satu terbagi jadi dua kubu. Kubu pertama adalah kubu curhat, dan kubu kedua adalah kubu filsafat. Setelah kubu curhat selesai curhat-curhatan, mereka bergabung dengan kubu filsafat membicarakan hal-hal seru gitu deh. Sayangnya karena kita bicaranya pada saat subuh takutnya mengganggu yang lain, padahal kalau siang-siang ngobrolinnya bisa debat kusir seru gitu. Akhirnya pembicaraan selesai menjelang pukul empat pagi. WOW.

Hebatnya kita, meskipun tidur jam 4an gitu, masih bisa bangun pagi jam 7an. Hehe. Jadilah gue terbangun dari sofa tempat gue tidur (sofa yang sama tempat gue duduk pas debat kusir) terus tidur lagi sampai jam 7an. Ketika gue terbangun, kembali matahari menelusup ke mata gue dan membuat gue kesilauan sehingga terbangun. Ketika bangun, gue kembali melihat keadaan ruang tamu yang sudah lebih ramai dari kemarin dan gue cuci muka buat menjemput nyawa gue yang belum kembali dari alam mimpi. Nggak lama berselang, makan pagi siap. Akhirnya gue tandaskan makan pagi kemudian kembali ngantri mandi. Karena setelah mandi udah nggak ada sesi, gue ikut bermain di zona lingkaran besar yang udah dibentuk sama Hapsari dekaka untuk main polisi maling. Di acara games dadakan ini kita bermain banyak sekali game, bahkan sampe cape sendiri, haha.

Setelah bermain sampai cape, tibalah saatnya menarik amplop sampai lepas dari jendela dan membuka serta melihat isinya. Yup, saatnya baca testimonial. Di acara yang menyenangkan ini gue cukup senang sih, karena testimonial yang gue terima puji Tuhan cukup baik. Dan yang cukup menyenangkan lagi, gue buka testimoni gue sambil berada di ruang musholla yang dipenuhi orang-orang. Jadi kan jendelanya kebuka gitu, terus Wilson fotoin kita, ada yang dari luar (kena frame jendela), ada juga yang di dalem yang penuh gitu. Fotonya keren-keren Wil, sip banget. Nggak lama setelah itu, kita siap-siap pulang: packing (sebenarnya udah dari pas mandi sih disuruh packing), terus bawain barang-barang ke bus. Akhirnya kita memasuki bus yang lelet datangnya (harusnya bisa lebih awal tapi si supir muter-muter dulu) sekitar menjelang pukul satu, dan pukul satu kita berangkat dari Century Hills.

Sepanjang perjalanan gue ngantuk (ya karena paginya cuma tidur tiga jam), tapi perjalanan cukup menyenangkan karena selain gue tidur, makan siang (semua juga makan siang di bus kok),  dengerin lagu, gue juga bisa ketawa-ketawa bareng-bareng yang lain. Kita akhirnya tiba di Jakarta (tepatnya  di Smukie lagi) pukul lima sore. Setelah itu kita nggak langsung mencar sih, sempet ngumpul sebentar, tapi habis itu langsung mencar lagi. Gue sendiri baru meninggalkan Jakarta sekitar pukul enam karena makan dulu sama Joshia.

Okei, kira-kira itu yang bisa gue  tulis di sini tentang tiga hari yang sangat memorable bersama keluargaku. Maju terus ya SC.. GBU all..

Konsolidasi Smukiez Choir II – Day 2

Pada pagi hari yang cerah gue terbangun karena sinar matahari yang menyilaukan menelusup ke dalam mata gue. Dengan keadaan setengah sadar gue keluar kamar untuk cuci muka dan melihat keadaan ruang tamu villa yang udah setengah rame. Nggak lama berselang, sarapan pagi udah siap, akhirnya kita semua yang udah bangun kemudian menikmati sarapan. Selagi menikmati sarapan, sebagian juga ada  yang mandi, untuk persiapan sesi berikutnya. Setelah semua beres, kita memasuki sesi.

Sesi pertama pada hari itu (yakni sesi kedua) kembali diadakan dalam kelompok-kelompok kecil untuk membicarakan tugas masing-masing, dan kemudian hasilnya dibahas bersama-sama. Kita membahas hal-hal yang perlu diperhatikan dalam suatu organisasi paduan suara. Kemudian sesi diakhiri sekitar menjelang jam makan siang; setelah makan siang yang nikmat kita kembali mengikuti sesi yang ASIK (literally), yaitu sesi formasi. Enaknya adalah kita nggak perlu cape-cape mikir; kita cuma ngikutin apa yang Arya suruh. Belajar formasi ini enaknya pindah-pindah tempat: kadang di ruang tamu, kadang di halaman belakang, bahkan sampai pindah ke jalanan depan villa. Tapi emang dasarnya asyik, pindah-pindah pun bukan jadi masalah. Sesi formasi kemudian diakhiri sekitar pukul empat. Pukul empat sampai pukul enam acara bebas; gue pertama kalinya masuk ke dalam kamar yang tadinya musholla tapi memang musholla itu dibuat dengan sangat dahsyat sehingga baik suasana ruangan atau viewnya bener-bener ideal untuk dijadiin kamar (meskipun lacking privacy, hehe). Di situ gue dan beberapa teman ngobrol-ngobrol, dengerin lagu, sambil bikin testimonial untuk anak-anak Smukiez Choir. Speaking about testimonials, udah tradisinya kita kalau konsol pasti sediain amplop yang ditempel di jendela kaca, terus diisi sama testimonial dari anak-anak lain buat kita masing-masing. Gue inget juga selagi gue ngumpul di kamarnya Gebi (musholla  itu tadi), Hapsari dekaka lagi main UNO dengan serunya.

Setelah acara bebas, sesi dilanjutkan. Malam hari, sesi kita adalah sesi nyanyi (ini paling CIHUY). Kita latihan tiga lagu: The Majesty and Glory of Your Name, Janger, sama Ondel-ondel. Setelah nyanyi, kita istirahat lima belas menit, kemudian sesi dilanjutkan dengan forum. Forum ini adalah ajang dimana kita boleh curhat sepuas kita, tumpahin unek-unek, ngasi pendapat dan juga kesan pesan buat Smukiez Choir. Lagi, sesi ini diakhiri karena emang waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua belas. Akhirnya kita semua  berencana untuk pergi tidur. Namun menjelang tengah malam rencana berubah total.

Konsolidasi Smukiez Choir II – Day 1

Oke readers, tahun ini gue kembali mengikuti event menyenangkan yang telah gue ikuti pada tahun sebelumnya, yaitu Konsolidasi Smukiez Choir. Konsol kali ini adalah konsol yang kedua sekaligus yang terakhir (mungkin) buat gue, karena kalo Tuhan izinkan gue tahun depan udah lulus dan mungkin gue ga bisa ikutin lagi konsol seperti ini. Oleh karenanya, gue berpikir untuk menceritakan event-event yang terjadi selama tiga hari ini (kalau bisa) secara mendetail. Mohon maaf ya kalau post ini mungkin sebagian dari isinya agak-agak offensive, tapi bener deh, ini semua ingin gue sharingkan karena gue benar-benar menganggap pengalaman ini berkesan abis.

Konsolidasi tahun ini kembali mengambil tempat di Century Hills, Bandung, dan diadakan selama tiga hari dua malam, yaitu tanggal 23-25 September 2009. Tahun ini konsol lebih panjang, karena konsol tahun lalu hanya diadakan selama dua hari. Di hari pertama, seperti biasa semua peserta berkumpul di sekolah, dan sekitar pukul delapan kita semua berangkat menuju Bandung. Perjalanan di hari pertama lumayan (entah lumayan cepet, lumayan pegel, atau lumayan melelahkan) tapi pokoknya puji syukur kepada Tuhan karena kita semua bisa tiba dengan selamat tanpa kekurangan suatu apapun. Pas kita nyampe, villa masih dibersihin, sehingga kita semua akhirnya turun dari bus dan main-main di sekitar villa. Sebelum masuk ke villa, kita sempet foto bentar, lalu setelah itu kita masuk dan unpacking.Kita masuk villa sekitar pukul dua, dan setelah unpacking adalah acara bebas sampai pukul enam. Di acara bebas, hal yang kita lakukan tuh macem-macem:

1. Ada yang memenuhi panggilan alam,.

2. Ada yang main voli (seru loh, bolanya gelinding sampe patung gajah di depan kompleks)

3. Ada yang main capsa.

4. Ada yang main UNO.

5. Ada yang melakukan aktivitas lainnya.

Nah di acara bebas itu juga sebenarnya kesempatan untuk beristirahat, mandi, dan juga mempersiapkan diri untuk mengikuti sesi pada malam hari. Akhirnya pada pukul enam kita makan malam dan setelahnya sesi pertama dimulai.

Di sesi pertama, seluruh peserta konsol dibagi menjadi dua kelompok besar, dimana dua kelompok tersebut kemudian dibagi lagi menjadi empat kelompok kecil, dimana setiap kelompok diberikan tugas yang berbeda-beda: ada yang diberi tugas untuk merancang suatu event, ada yang merancang program kerja, dan ada juga yang merancang struktur organisasi. Pokoknya semua kemampuan dasar yang diperlukan untuk memanage sebuah paduan suara. Nah, setelah itu hasilnya dibahas bersama. Di saat pembahasan semua idenya kocak-kocak, sehingga meskipun sampe malem nggak terlalu berasa; berasa udah malemnya karena udah mulai ada yang ngantuk-ngantuk dan berpose ria di atas karpet (haha). Akhirnya setelah sesi berakhir (sekitar jam 11an gitu) kita semua diizinkan tidur dan diberi warning: besok harus bangun pukul 7.

Mungkin memang salahku kalau begini jadinya

Kini tiada lagi kumampu melihat dirimu seutuhnya

Hanya bayang-bayangmulah yang tersisa di benakku

Bahkan kecanggihan dunia mayapun tak akan mampu

Mengembalikan segala sesuatu seperti dahulu

 

Kini tak lagi dapat kudengar suara indahmu

Tak dapat lagi kukagumi parasmu yang menawan

Sungguh, rasa ini membuatku lumpuh dan tak bernyawa

 

Tetapi di balik semua itu kekagumanku takkan sirna

Melihat jiwamu yang tangguh dan penuh semangat

Merasakan semangatmu yang tak lekang oleh waktu

Apa yang telah kau lakukan selama ini tidaklah sia-sia

 

Puluhan derajat lintang dan bujur ‘kan memisahkan kita

Terpisahkan pula oleh zona waktu dan dimensi berbeda

Namun ku ‘kan selalu mengingatmu yang pernah singgah di hatiku

 

Terima kasih

Karena pernah sesaat  memberi warna dalam hidupku

Atas wajahmu yang sempat mengalihkan duniaku

Untuk setiap kata yang kau ucapkan

Atas kesempatan untuk berbagi keceriaan

Dan pelajaran hidup yang kau bagikan kepadaku

Mungkin kau takkan pernah tahu bahwa

Bunga cinta sempat mekar dan bersemi

Tetapi yang sudah berlalu biarlah berlalu

Tetaplah menjadi sinar bagi dunia dan teruskan perjuanganmu

Kiranya Ia menyertaimu selalu

♥ P.S.   ILD

Pelajaran Hidup

Bingung nggak kenapa gue nggak nulis pake bahasa Inggris? Bukan hal yang penting juga sih ya.. Karena sebenarnya kan gak masalah apakah gue menulis pake bahasa binatang ataupun bahasa planet karena yaa.. intinya karena gue ngomong bahasa Indonesia, gue CINTA bahasa Indonesia, dan karena Inggris gue lagi surut. Literally, surut, atau kalau mau lebih jelas lagi, decaying (okey cukup ya). Tapi unsur bahasa Inggris gak sepenuhnya ilang, karena gue memakai beberapa frase yang menurut gue enak aja.

Anyway inilah gue, setelah sempet off dari dunia blogging selama hampir dua bulan dan baru kepikiran menulis sesuatu lagi sekarang. Sebelumnya I’d like to say HAPPY 1st ANNIVERSARY to my beloved blog.. Tanpa terasa blog ini sudah berusia satu tahun sejak post pertamanya yang kontennya cukup alay karena menulis tentang kerjaan gue di mal (oh plis dong.. waktu itu gue bener-bener udik soal mal itu). Dan.. Yah, di usia yang ketujuhbelas ini gue juga senang karena beberapa hari setelahnya gue ditimpa pelajaran hidup (buku kali yaa) yang cukup banyak. Yep, seperti tugas gue di sekolah.

Pelajaran hidup yang gue dapatkan beberapa hari ini cukup menyakitkan meskipun hal itu sangat berharga adanya, harus gue akui itu. Sakit emang, tapi they say itu buat kebaikan kita. Sampai sekarang gue kadang masih nggak bisa terima kalau gue menerima pelajaran hidup dengan cara represif–kesannya itulah satu-satunya cara gue belajar. Hello, I’m not that primordial. Tapi bagaimanapun cara belajarnya, yang penting adalah APA yang masuk itu. Dan kira-kira inilah apa yang gue dapet sebagai pelajaran hidup minggu ini:

1. Ojo dumeh. Thanks to Javanese, mereka mengingatkan kita biar nggak sombong dengan segala yang kita punya saat ini. Memang bener sih ya. Nggak selamanya apa yang menjadi kebanggaan lo akan terus dibanggakan orang juga. In fact, people don’t give it a damn! Bicara soal sombong, memang kesombongan itu haram jadah di mata Tuhan–terbukti dengan seberapa kecilnya bibit kesombongan yang tumbuh di hati akan langsung diberantas habis (baca: diganyang) dengan cara apapun. Yep, Tuhan bisa memakai siapapun–termasuk orang-orang yang nggak pernah lo duga untuk mempermalukan lo ketika lo sombong.

2. Stop being negative about your life. Hidup itu indah men, terutama kalo lo ngejalanin segalanya dengan positif. Caranya ya positive thinking. Bukannya mikirin tanda plus mulu atau bahkan tempelin tanda plus di jidat lo (itu freak abis), tapi yah, pandanglah segala sesuatunya dari sisi optimis. Memang, terlalu optimis juga nggak baik, karena kesannya lu sombong abis dengan hidup lo, tapi percayalah dengan positifnya pikiran lo, hidup lo lebih indah. Ini nggak semudah membalikkan telapak tangan ataupun bernapas, so you’ll need His help to keep doing it. Gue pun sedang dalam tahap belajar..

3. Belajarlah sepanjang hidup. Prinsip long life learning harus dijadikan motto, bahkan gaya hidup. Kenapa? Kita hidup dalam masyarakat dinamis yang terus bergerak mengikuti aliran zaman. Zaman ini terus berubah, berevolusi, berkembang menuju masa depan yang penuh kompetisi dan prestise. Kalau kita nggak belajar, dijamin kita bakalan ketinggalan. Dan bukan cuma itu alasan kita belajar; alasan lainnya kita belajar adalah mensyukuri logika yang udah diberikan Tuhan buat kita serta menggunakannya untuk menjadi saluran berkat buat orang lain.

Oke, I guess that’s for today.. Besok gue ulangan Matematika nih, doain gue ya..

XI A 5 2008 – 2009 — Setelah Setahun Bersama

Yep, tepat kemarin, 12 Juni 2009, adalah akhir dari kebersamaan XI A 5 selama setahun penuh menuntut ilmu bersama, bercengkerama bersama, menggila bersama, dan melakukan hal-hal menyenangkan lainnya bersama. Kalau diingat-ingat lagi, ada banyak kejadian yang indah dan berkesan yang ditorehkan di memori kami selama enam bulan kedua, yang benar-benar mempererat kebersamaan dan kesatuan kami sebagai satu keluarga di XI A 5.

Pengalaman yang cukup berkesan (menurut gue) dimulai ketika hari Valentine, ada acara kirim-kiriman surat pas pelajaran Bahasa Inggris, terus ada acara kebersamaan kelas yang diadakan OSIS, dimana kelas kita ikut dua lomba: Best Couple dan Lomba Parcel. Kita dapet juara 2 di lomba parcel. Meskipun kita nggak menang di lomba Best Couple, tetep aja kelas kita cukup mengguncang karena di lomba ini perwakilan kita, Podi dan Raissa, ngegombal di panggung (aslinya sih Podi doang, hehe).

Kebersamaan pun terus dibangun (ceilah) melalui acara-acara jalan-jalan yang diadakan—biasanya sih mall-to-mall, mulai dari GI, TA, dan PP. Sering nggak ikut sih gue (T.T) tapi gue tetep senang karena kelas tetap kompak. Kalau nggak lagi ada rencana ke mall, kebersamaan tetap terbangun melalui jam-jam kosong di kelas: biasanya kita nyanyi-nyanyi di kelas diiringin Shilton dengan gitarnya, gila-gilaan, ngejayus, dan sebagainya. Oiya, kita juga sempet pergi ke Dufan jalan-jalan bareng. *guegakikutlagi*

Puncak kebersamaan benar-benar terasa ketika acara perpisahan XI A 5 di Bogor, tanggal 10-11 Juni 2009. Kronologi cerita kebersamaan ini menurut gue so sweet (hoho). So here it is..

* * *

Rencana jalan-jalan kami udah tercetus dari lama banget, mungkin kira-kira bulan Mei atau bahkan April akhir. Pertamanya kita berencana untuk pergi ke Carita, tapi karena suatu dan lain hal banyak yang gak bisa dan akhirnya sempet dorman (hoho) rencana itu, sampai akhirnya suatu hari Pricil bikin note di Facebook untuk membicarakan rencana perpisahan kita. Setelah melalui tahap perundingan, penandatanganan, dan pengesahan (loh) akhirnya kita setuju untuk ngadain perpisahan di villanya Pricil di Bogor—cuma semalam karena rada susah waktunya.

Pagi itu, tanggal 10 Juni, tiba-tiba beredar SMS yang mengatakan bahwa Pricil nggak bisa ikut. Waduh? Kan ribet tuh jadinya. Pricil nggak bisa ikut karena suatu alasan *censored*. Satu hal yang so sweet dari hal ini adalah pada akhirnya Pricil jadi ikut karena apa yang menjadi alasannya itu udah ‘beres’. *maaf geje, rahasia perusahaan*

Akhirnya kita jalan ke Bogor sore-sore (dari yang tadinya niat berangkat pagi-pagi). Nah, perjalanan ini cukup seru, karena ada beberapa anggota kelas yang tadinya nggak mau ikut, atau nggak tau jadinya nggak ikut, akhirnya ikut juga. Nah, perjalanan ke Bogor ini cukup seru juga karena kebagi beberapa rombongan:

  1. Rombongan Pricil, berangkat dari Smukie naik mobil Adit.
  2. Rombongan Podi, berangkat dari Smukie naik kereta.
  3. Rombongan Yongki, berangkat dari Buperta naik mobil Yongki.

Cihuy nggak sih ngeliatnya? (hoho)

Pada akhirnya semuanya ngumpul di Bogor sekitar pukul 19.00. Setelah mandi et cetera kami pergi makan ke resto terdekat. Pas lagi makan, tiba-tiba ada telepon dari Jesslin. Dia ternyata baru tahu kami pergi ke Bogor, dan dia pingin ikut—waktu itu jam 20.00. Dan dia ternyata pergi! Dia sampai di villa Pricil sekitar jam 23.00 setelah melalui sedikit perjuangan untuk memperoleh izin—ain’t it sweet?

Di villa Pricil banyak hal yang kita lakuin: nonton bola, main UNO, main Mahjong, main capsa, main tepok nyamuk, dan lain-lain, pokoknya segala macam kita lakukan untuk mempererat kebersamaan kita (sebenarnya itu alami sih). Akhirnya hampir semua menyerah sekitar pukul 02.15 dan pergi tidur—tersisa tiga orang yang berusaha melawan kantuk namun akhirnya gagal.

Pagi itu aktivitas kembali dimulai sekitar pukul sembilan: sarapan, nonton Dahsyat, maen Mahjong (lagi), mandi, dan lain sebagainya. Setelah semua siap, kita berfoto ria di depan villa sebentar, lalu memulai petualangan berkeliling Bogor hari itu. Kita naik angkot (ngebajak 2 angkot penuh) ke Gang Aut buat wisata kuliner kecil-kecilan, dan setelah itu kita ke Kebun Raya Bogor untuk mendekatkan diri pada alam (cihuy). Waktu pulang dari Kebun Raya ternyata udah sore hampir jam 3, padahal kita berencana untuk pulang jam 3an. Akhirnya kita semua pulang dan makan di dekat villa. Pulang ke villa kita beres-beres dan jalan pulang dalam tiga rombongan: mobil Anthony, mobil Adit, dan mobil Pricil. Kita tiba di sekolah lagi sekitar pukul 18.30 (rombongan Anthony dan Adit).

Memang perjalanan ini capek walaupun cuma satu malam, tapi dua hari dan satu malam itupun adalah suatu memori indah yang nggak akan kami semua lupakan…

* * *

Memang sedih rasanya harus berpisah dengan keluarga yang udah lama banget kita sama-sama. Satu harapan gue (yang cuma angan-angan) adalah kita sekelas lagi.. Tapi meskipun ntar kita udah nggak sekelas lagi, gue berharap kita tetep stay in touch dengan yang lain.. Jangan sampai kebersamaan yang udah kita bangun terlupakan begitu saja..

Teman-teman, sukses ya di kelas yang baru.. Jangan pernah lupakan XI A 5..

XI A 5, may we stay together!