Tentang Perubahan
Sudah tentu kita sering mendengar berbagai kabar miring yang berhembus mengenai bangsa kita tercinta–saya rasa tak perlu disebutkan di sini.
Jujur saja, sebagai anak rantau yang menuntut ilmu di negeri orang, saya nggak bisa menahan diri untuk tidak membandingkan domisili saya sekarang dengan tanah air. Dan saya rasa, bukan hanya pendapat saya, tetapi semua orang setuju kalau dari berbagai aspek, kita masih tertinggal jauh dengan negara-negara tetangga, baik dari segi ekonomi, pendidikan, politik, maupun mindset masyarakat secara umum. Solusinya sudah jelas: kalau kita mau maju, kita harus berani mengambil keputusan yang telah dirumuskan dengan cermat. Masalahnya adalah, MAUKAH KITA MELANGKAH?
Dari kecil kita selalu dicekoki dengan berbagai hal yang, kalau dipikir-pikir, tergolong ideal: pendidikan moral, pengaturan dalam masyarakat, tata bahasa, ilmu pengetahuan, baik eksak maupun abstrak, tata krama, bahkan nilai-nilai Ketuhanan. Tetapi coba lihat, ketika kita keluar dari dimensi idealis yang hari demi hari ditanamkan dalam pikiran kita dan terjun ke dalam realita, dimanakah semua itu? Yang terlihat hanyalah gambaran akan ketimpangan. Tidakkah kita muak mendengarkan ulasan dalam berita mengenai masalah di tiap lapisan masyarakat, mulai urusan personal para selebriti sampai urusan yang menyangkut hajat hidup orang banyak? Tidak semua timpang, tentunya. Tetapi tentu saja kalau kita mau merefleksikan kembali apa yang telah kita pelajari, sia-sialah semuanya itu kalau lewat begitu saja, tanpa adanya tindak lanjut.
Kita selalu punya mimpi untuk menjadi bangsa yang besar. Tentu, optimisme itu perlu. Sudah cukup banyak, saya rasa, usaha untuk menanamkan optimisme dalam benak masyarakat akan terciptanya bangsa yang lebih baik di masa depan. Satu hal yang perlu kita ingat, yakni perubahan tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, apalagi *maaf* buang angin. Perubahan itu seringkali tidak enak; seringkali menyakitkan; seringkali membutuhkan pengorbanan dari kita sendiri. Namun, seringkali kita tidak mau melangkah keluar dari zona nyaman kita. Kita takut sakit. Kita takut dianggap berbeda dari orang lain. Kita selalu mencela orang yang berusaha membawa perubahan positif. Jujur saja, kita pasti tidak suka dengan guru yang sedikit-sedikit komplain soal seragam yang keluar-keluar. Tetapi sebenarnya yang mereka lakukan adalah taat pada peraturan! Saya nggak bisa membayangkan apa perasaan mereka ketika menguping pembicaraan murid yang sedang menggosipkan mereka. Sedikit banyak, saya jadi menyesal juga dulu suka menjelek-jelekkan mereka. Yang mereka lakukan sebenarnya untuk kebaikan murid-murid mereka!
Lalu, apa yang bisa kita lakukan sekarang? Kuncinya adalah one step at a time. Jangan cuma berani bermimpi, tapi ambillah langkah untuk mewujudkan mimpi itu. Dan jangan hanya bisanya mengeluh, mengeluh, dan mengeluh. Mengeluh tidak menyelesaikan masalah. Mari berubah. Lakukan bagianmu, apapun itu. Membuang sampah pada tempatnya. Taati peraturan lalu lintas. Berpikir dahulu sebelum bertindak. Ya, termasuk dalam membeli keperluan (apalagi barang mewah).
Hanya sepenggal ide dari pikiran seorang anak muda. Semoga berguna.

