Isu Bahasa
Setelah hampir setahun memendamnya dalam-dalam, saya merasa sudah saatnya mengeluarkan unek-unek di jiwa. Saya sih nggak peduli apa tanggapan kalian, saya yakin dan percaya kalian ngerti ini, dan itu membuat saya berharap pesan saya bisa sampai kepada kalian dan kalian bisa lebih memahami situasi di sekitar kalian. No offense, kita tetap teman. Peace.
* * *
Sebagai mahasiswa internasional, saya tinggal di akomodasi kampus (baca: asrama mahasiswa) yang letaknya dekat dengan fakultas saya. Yup, hampir tiap hari saya jalan kaki kalau mau kuliah, kecuali kalau pergi kelas bahasa. Asrama saya ini menurut saya cukup unik, karena statusnya yang boleh dibilang ‘menengah’. Kalau pakai istilah teman-teman saya di sini, asrama saya boleh dibilang “nggak serame hall, tapi nggak sesunyi residence“. Jadi kalau di kampus saya ini, akomodasi mahasiswa terbagi dua jenis: hall, yang sarat dengan kegiatan ekstrakurikuler dan suasana yang “heboh”, dan residence, yang nggak seramai hall. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan, yang nggak akan saya sebutkan di sini. Nah, saya tinggal di hall; tetapi bukan berarti saya orangnya heboh. No. Saya bangga menyatakan diri sebagai orang melankolis hehehe.
Di sini saya berkenalan dan berteman dengan mahasiswa-mahasiswa dari berbagai negara di dunia: Singapura, Malaysia, RRC, dan beberapa exchange student dari Jerman Prancis, Hong Kong, dan Australia. Nggak lupa tentunya, orang Indonesia, teman seperjuangan menuntut ilmu di negeri singa! Berkenalan dan berteman dengan mereka membuat saya cukup bersyukur tinggal di sini, terutama karena kegiatannya yang cukup asyik (meskipun kalau mau jujur saya kurang aktif sih) dan background teman-teman yang sangat beragam. Tapi (ada tapinya), tak ada gading yang tak retak; ada satu dan satu-satunya faktor yang membuat saya kadang jengah dengan orang-orang disini: bahasa.
Bahasa? Yang bener? Kenapa emangnya? Ngomong Inggris lu kurang bagus jadinya lu nggak gaul?
Bukan begitu, Masbro dan Mbaksis. Saya yakin dan percaya kok setiap manusia di hall saya (termasuk saya) mampu berkomunikasi dengan baik dalam bahasa Inggris. Saya tiap hari kuliah pakai bahasa Inggris. Orientasi hall saya saja pake bahasa Inggris. Pengumuman, e-mail, catatan kuliah, semua pakai bahasa Inggris. Hanya saja, saya juga harus ingat dan menerima kenyataan kalau bahasa kedua orang Singapura tak lain dan tak bukan adalah bahasa Mandarin, yang saya nggak ngerti. Dan jangan salah, teman-teman saya yang berasal dari negara tetangga kita (yang suka rebutan sama kita padahal serumpun) hebat-hebat lho. Mereka minimal bisa tiga bahasa, belum lagi kalau mereka bisa ngomong dialek. Dan seperti yang saya bilang, mereka bisa bahasa ITU.
Oh gitu. Lha terus kenapa?
Jadinya begitu deh, di antara mereka seringkali mereka berkomunikasi dengan bahasa planet mereka sendiri. Kadang-kadang kalau lagi dinner atau breakfast, saya dan temen Indo saya duduk bareng mereka, mereka tetap saja nyerocos dengan prokem mereka sendiri. Kadang-kadang masih bisa dimaklumi sih, karena situasinya saya gabung dengan mereka pas mereka lagi ngobrol; mereka nggak punya hak untuk ganti bahasa karena saya seorang dong. Tetapi kadang-kadang situasinya keterlaluan: mereka tahu dan sadar saat itu ada yang nggak mengerti mereka bicara apa tapi tetap nggak peduli. Dan itu nggak terjadi hanya pas dinner atau breakfast: ketika acara night cycling, ketika sedang ikut kegiatan ekstrakurikuler, bahkan ketika sedang jalan-jalan bareng. To make matters worse, di hall saya bahkan ada CCA (bahasa anak sini untuk ekstrakurikuler) KHUSUS buat mereka orang-orang yang BISA ngomong bahasa dewa, karena nama CCAnya aja udah pake bahasa dewa. Eksklusif? BANGET. Kadang-kadang saya jadi ngerasa saya kok bukan tinggal di Singapura lagi ya.
Meskipun demikian, beberapa dari mereka baik sih; mereka ngerti situasi dan kadang-kadang mencoba menjelaskan pada saya apa yang sedang mereka bicarakan. Jujur saya menghargai itu banget, nggak seperti mereka yang kalau ngeliat saya bengong ala kambing congek diam-diam saja dan terus nyerocos. Walaupun mereka kadang balik ngomong begitu lagi, at least saya merasa dihargai kehadirannya. Meskipun saya kadang kecewa dengan perlakuan mereka, saya tidak mau menganggap itu sebagai penghalang berteman. Friends forever kawan!
No trackbacks yet.