Mahasiswa Indonesia di Luar Negeri: Salah Kami Apa?
Saya bicara sebagai salah satu dari sekian mahasiswa Indonesia yang ada di luar sana menuntut ilmu.
Beberapa kali di tahun pertama saya, saya mendengar komentar-komentar miring dari beberapa oknum mengenai mahasiswa-mahasiswa Indonesia di luar negeri. Bukan, bukan yang mengatakan bahwa kami tidak belajar dengan sungguh-sungguh, menghambur-hamburkan uang lembaga pemberi beasiswa, dan buang-buang waktu (meskipun ada juga yang berkomentar seperti itu, ups). Komentar yang kami terima berkenaan dengan masa depan kami setelah kuliah: lalu apa?
Di semester pertama saya, seorang teman menulis di akun Twitternya mengenai komentar salah satu mahasiswa universitas ternama di Indonesia tentang mahasiswa Indonesia alumni SMA saya yang kira-kira menyatakan:
Kata temen gw anak ***** ga cinta negara sendiri, kalo uda kuliah di luar langsung lupa sama indo, apa bener?
Kata temen gw lg tuh, anak ***** yang kuliah di indo pun pst tujuannya kerja di luar trus lupa indo deh, ckckckck
Belum lama ini juga seorang teman menampilkan foto komentar seseorang di blog-nya yang bernada “sirik tanda tak mampu”. Klise? Tentu tidak. Dalam komentarnya, ia menambahkan “bumbu-bumbu sedap sok bule” (karena pake bahasa Inggris) seperti “kesuksesanmu nggak ada artinya kalau kamu nggak kembali ke negara asalmu” dan “suksesmu nggak berarti buat kami kalau kamu sama seperti mereka”.
Kenyataan pahit memang, bahwa cukup banyak mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang belajar di luar negeri kemudian memilih untuk tidak kembali ke tanah air untuk mengaplikasikan pengetahuan mereka dan memberi kontribusi bagi pembangunan bangsa dan negara. Mengapa? Alasannya beragam; namun salah satu alasan yang paling populer di kalangan mereka adalah masalah jaminan hidup. Salah satu talkshow di stasiun televisi swasta sempat mendatangkan beberapa cendekiawan asli Indonesia yang saat ini menetap di berbagai belahan dunia: Jepang, Swiss, Amerika Serikat, bahkan negara tetangga, Malaysia. Dari apa yang saya ingat, kebanyakan dari mereka tidak kembali ke tanah air karena kesejahteraan lebih terjamin: riset dibiayai, fasilitas lebih nyaman, dan sebagainya.
Kembali ke masalah komentar. Setelah melihat komentar-komentar di atas, kalau dipikir-pikir lagi tidakkah komentar-komentar bernada sirik itu bisa berdampak negatif? Ada dua poin yang saya mau sampaikan di sini:
- Tidak semua orang Indonesia punya mentalitas seperti itu! Kalau mau jujur, saya memang kenal dengan beberapa orang yang hopeless dengan Indonesia, tetapi percayalah dari ratusan juta penduduk Indonesia tidak mungkin semua berpikiran sama! Beberapa dosen yang pernah mengajar saya memperoleh gelar doktornya di luar negeri, dan mereka KEMBALI ke Indonesia untuk MENGAJAR!
- Mereka terlalu cepat memasang stigma. Dan, aduh, sikap siriknya itu lho. Katanya (dan ngakunya) mau membangun bangsa, tetapi masalah seperti ini diributkan. Mentalitasnya senang lihat orang lain susah tapi susah lihat orang lain senang. Kalau sikapnya non-kooperatif dan tidak reseptif seperti ini, bagaimana mungkin orang-orang yang dari luar mau kembali dan berkontribusi? Wong kalau balik tiap hari kerjanya disirikin, kok. Nanti nggak dikasih kesempatan lah, dipersulit lah. Meskipun belajar di luar negeri, kita masih berasal dari satu tanah air Indonesia! Bagaimana mau maju kalau tidak bersatu?
Jadi, salahkah kami kalau kami menggunakan kesempatan yang telah diberikan kepada kami untuk menuntut ilmu, meskipun bukan di negeri sendiri?
menurut gw yah, ada beberapa alasan jg orang gamau balik ke indo
1. iya, di luar lebih terjamin, kyk temen gw ada yg ke ausi, kenapa dia udah stay there for good? di sono semua enak, kalo udah PR usek sama uang berobat jg gratis ( ato ngak murah ), jalanan gak MACET.
2. mungkin ada beberapa orang yang bakal balik ke indo, cuman yah kadang2 itu, bukannya gamau balik, tapi kalo balikpun, lu ga bakal dihargain di indo.
3. negara terkadang gak cinta kita, susah banget buat balik ke indo dan mencintai negara yg sama sekali gak menghargai kita.
thats in my opinion though, kalo gw ke jepang jadipun, gw rasa gw bakal tetep balik karena indo enak buat ngerok duitnya. HAHAHA
Wah gila Ko ini post bagus banget GUE SETUJU ABIS!!!
Gue heran deh bener kenapa sih semua orang kalo gua bilang gua mo kuliah ke luar negeri buru-buru sok NASIONALIS ala Munafik gitu? Like they really loves this country anyway…
Even if you really loves Indonesia, like you will reject if there’s somebody from blablabla America come to you and offer a free Green Card (American Citizenship)? No right. Jadi kenapa gitu semua orang ngelarang-larang gue dan temen-temen gue yang ya kira-kira kelas 11-12an ini kuliah ke luar?
Jujur sih gua ga cinta-cinta banget ya sama Indonesia. Dan buat gue, kuliah ke luar, kerja ke luar. so what? di jaman nanti. gampang kali mo balik Indo tinggal naek pesawat bentar jg nyampe.. kae sekarang aja Jakarta-Bandung…
Iya kan?
*jdi emosian wkwkkwkw
saya juga pingin keluar negeri, tapi pengen kerja disana, soale aku pingin nyumbang devisa, bukan sebagai pembantu rumah tangga, tapi sebagai pekerja profesional.